Penyakit Epilepsi – Penyebab, Gejala, dan Bahayanya

Saat ini Epilepsi mungkin menjadi penyakit yang sangat menakutkan bagi semua orang.

Cari tahu Penyakit Epilepsi – Penyebab, Gejala, dan Bahayanya di Konsulgratis.com berikut ini 😉

Penyakit Epilepsi – Penyebab, Gejala, dan Bahayanya

Penyakit Epilepsi atau ayan merupakan gangguan sistem saraf pusat yang terjadi akibat pola aktivitas listrik otak yang tidak normal, sehingga menimbulkan keluhan kejang, sensasi, perilaku yang tidak biasa, hingga hilang kesadaran.

Gangguan pada pola aktivitas listrik otak saraf bisa terjadi karena kelainan pada jaringan otak, ketidakseimbangan zat kimia di dalam otak, atau kombinasi dari beberapa faktor penyebab tersebut.

Epilepsi dapat dialami oleh semua usia, baik wanita maupun pria. Namun pada umum nya epilepsi bermula pada usia anak-anak, atau bahkan mulai pada saat usia lebih dari 60 tahaun.

Di dunia, kasus epilepsi ini merupakan penyakit saraf yang paling banyak terjadi. Berdasarkan hasil data WHO tahun 2018, ada sekitar 50 juta penduduk di dunia yang mengalami gangguan ini.

Berdasarkan penyebabnya, epilepsi bisa digolongkan menjadi 2 yaitu:

  1. Epilepsi idopatik yaitu epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui.
  2. Epilepsi simptomatik yaitu epilepsi yang terjadi akibat suatu penyakit yang menyebabkan kerusakan pada otak.

Kejang yang terjadi pada penderita epilepsi bisa dipicu karena beberapa kondisi, seperti: stres, kelelahan, atau akibat konsumsi obat-obatan.

Diagnosis epilepsi bisa ditetapkan setelah dokter melakukan pemeriksaan fisik, terutama kondisi saraf pasien, dan serangkaian tes untuk memastikan kondisi yang abnormal pada otak.

Sesudah epilepsi terdiagnosis, penting untuk mulai melakukan pengobatan secepatnya, dengan mengatur pola makan dan pemberian obat.

Penyebab Penyakit Epilepsi

Epilepsi merupakan kelainan kompleks dengan berbagai penyebab. Apapun yang mengganggu pada pola listrik normal otak bisa menyebabkan kejang.

Terdapat sekitar setengah dari kasus epilepsi bisa dikaitkan dengan faktor-faktor spesifik, termasuk:

Genetika

Sebagian besar epilepsi genetik dimulai pada masa anak-anak dan disebabkan oleh cacat genetik pada saluran ion atau reseptor.

Kerusakan otak

Kondisi yang mengakibatkan kerusakan pada otak seperti: stroke, tumor, atau cedera traumatis di kepala bisa menyebabkan epilepsi.

Infeksi otak

Infeksi yang mempengaruhi dan mengobarkan otak seperti: meningitis, ensefalitis, tuberkulosis, dan sindrom imunodefisiensi (AIDS) yang diduga semuanya bisa menyebabkan epilepsi.

Gangguan perkembangan

Epilepsi tampaknya lebih umum terjadi pada orang dengan gangguan perkembangan tertentu seperti: autisme, sindrom down, cerebral palsy, dan cacat intelektual.

Perubahan struktural pada otak

Perbedaan tertentu dalam struktur otak yang berkembang dengan seiring berjalannya waktu atau sejak lahir, seperti: hippocampal sclerosis atau malformasi perkembangan saraf bisa menyebabkan kejang.

Alkohol

Beberapa penelitian menunjukan jika penyalahgunaan alkohol kronis bisa dikatikan dengan perkembangan epilepsi pada beberapa orang.

Itu semua merupakan faktor risiko dan penyebab epilepsi, karena salah satu dari kondisi tersebut bisa meningkatkan kemungkinan Anda untuk terkena epilepsi.

Pada penderita epilepsi, ada beberapa faktor yang bisa memicu terjadinya kejang. Di antaranya sebagai berikut:

  • Lelah atau kurang tidur
  • Stres
  • Tidak mengonsumsi obat antikonvulsan atau antiepilepsi secara teratur
  • Mengonsumsi obat yang mengganggu kinerja obat antiepilepsi
  • Melewatkan jam makan
  • Demam tinggi
  • Saat menstruasi
  • Mengonsumsi obat antidepresan atau antipsikotik tertentu
  • Kilatan cahaya

Gejala Penyakit Epilepsi

Kejang merupakan gejala utama dari penyakit epilepsi yang terjadi ketika timbul impuls listrik pada otak melebihi batas normal.

Kondisi itu menyebar hingga ke are sekelilingnya, dan menimbulkan sinyal linstrik yang tidak terkendali, dan sinyal tersebut terkirim juga pada otot sehingga menimbulkan kedutan sampai kejang.

Tingkat keparahan kejang pada setiap penderita berbeda-beda ada yang hanya berlangsung beberapa detik dan hanya seperti memandang dengan tatapan kosong, atau juga bisa terjadi gerakan lengan dan tungkai berulang kali.

Kejang sendiri bisa dibagi menjadi 2 kelompok utama, yaitu kejang umum dan kejang parsial atau fokal.

Penderita epilepsi biasa akan mengalami jenis kejang yang sama sepanjang ia dinyatakan epilepsi, meskipun ada juga yang mengalami beberapa kejang ketika yang berbeda.

Kejang umum terjadi pada seluruh bagian otak dan menyebabkan timbulnya gejala di sekujur tubuh. Sedangkan pada kejang parsial atau fokal, bagian otak yang mengalami gangguan hanya sebagian saja.

Kondisi kejang dari epilepsi yang paling parah yaitu status epileptikus, di mana kejang berlangsung lama, atau bahkan berulang dan kesadaran penderita tidak pulih di antara waktu kejang.

Kondisi tersebut merupakan kondisi gawat darurat dan memerlukan penanganan medis secepatnya.

Penangan medis secepatnya juga diperlukan jika penderita mengalami:

  1. Demam tinggi
  2. Sedang hamil
  3. Menderita diabetes
  4. Mengalami kejang lebih dari 5 menit
  5. Mengalami kejang kedua, tidak lama sesudah kejang pertama
  6. Mengalami luka-luka di tubuh ketika kejang berlangsung
  7. Tidak sadar atau tidak bernapas setelah kejang berhenti

Bahaya Penyakit Epilepsi

Kejang pada penderita epilepsi terkadang bisa membahayakan penderitanya dan orang lain.

Bahaya itu bisa berupa terjatuh ketika kejang, sampai risiko mengalami cedera atau patah tulang.

Bahaya lainnya seperti hilang kesadaran saat kejang, sehingga berisiko tenggelam ketika berenang atau mengalami kecelakaan saat berkendara.

Selain itu, masalah kesehatan mental juga sering kali dihadapi oleh penderita epilepsi akibat dari efek samping pengobatan, atau kesulitan dalam menghadapi kondisinya.

Komplikasi kesehatan mental yang sering timbul akibat epilepsi antara lain : depresi, kegelisahan, atau keinginan untuk bunuh diri.

Kompikasi juga bisa terjadi pada penderita epilepsi yang sedang dalam kondisi hamil.

Meski sebagian besar penderita epilepsi bisa mengalami kehamilan dan persalinan dengan baik, namun ada kemungkinan janin mengalami cacat ketika lahir atau masalah perkembangan.

Dalam kasus yang jarang terjadi, epilepsi bisa menimbulkan komplikasi yang membahayakan nyawa penderita nya.

Komplikasi itu adalah status epileptikus yang merupakan kejang yang berlangsung lebih dari 5 menit, atau kejang berulang tanpa diselingi kondisi sadar diantara kejang.

Komplikasi membahayakan lainnya ialah kematian mendadak dengan penyebab yang belum diketahui. Kondisi ini bisa dialami oleh penderita kejang yang tidak dikendalikan dengan otot.

Sumber

    https://www.alodokter.com/epilepsi

    https://www.verywellhealth.com/epilepsy-causes-risk-factors-1204427

Baca Artikel Terkait Lainnya:

Jika Ada Pertanyaan, Silahkan Isi Kolom Komentar Disini yaaa ...

Konsultasikan Disini!!
error: Jangan Copas!! Mikil Sendili Dong :P